Ketahui Gaya Hidup Remaja di Jepang

Ketahui Gaya Hidup Remaja di Jepang

Ketahui Gaya Hidup Remaja di Jepang

Gaya Hidup Remaja di Jepang – Tradisi gaya hidup setiap negara memang memiliki perbedaan namun terkadang ada yang sulit dipercaya karena terlalu unik atau anehnya sebuah tradisi tersebut yang digunakan. Jepang menjadi salah satu negara yang banyak memiliki tradisi gaya hidup aneh dan unik, melihat secara sekilas atau sebentar saja memang tidak cukup untuk dapat mengetahui semua tradisi atau budaya yang dimiliki oleh negara matahari terbit ini. Dibawah ini Artfroia akan memberikan 5 tradisi gaya hidup unik dan aneh yang mungkin anda belum ketahui selama ini tentang Jepang.

Normalnya memiliki gigi yang teratur atau rapih adalah impian setiap orang tetai di Jepang muncul sebuah tradisi gaya hidup yang unik mengenai gigi yang disebut dengan Yaeba. Tradisi ini adalah memanjangkan gigi taring sehingga terlihat lebih panjang daripada gigi lainnya, di Indonesia mungkin bisa dibilang gigi gingsul. Yaeba sendiri memiliki arti yaitu gigi vampir, penampilan seperti ini diyakini banyak remaja di Jepang memberikan tampilan yang lebih imut dan menarik terutama untuk kalangan gadis remaja.

Gaya Hidup Remaja di Jepang Serta Kemajuan Yang Ada

Survei nasional itu menemukan di antara 12.249 responden, sekitar 2 persen orang berusia 15 hingga 64 tahun diidentifikasi sebagai hikikomori, sementara usia lainnya berkisar 15 tahun hingga 39 tahun. Dengan persentase itu diterapkan pada total populasi Jepang, diperkirakan ada 1,46 juta pertapa sosial di negara itu.

Alasan umum yang biasa digunakan banyak masyarakat untuk isolasi sosial adalah kehamilan, kehilangan pekerjaan, sakit, pensiun dan memiliki hubungan interpersonal yang buruk. Tetapi alasan utamanya adalah COVID-19, dengan lebih dari seperlima responden menyebut pandemi sebagai faktor penting dalam gaya hidup tertutup mereka.

Sebagai fenomena sosial di Jepang, hikikomori dinilai dapat memengaruhi krisis populasi Jepang. Lihat saja, kelahiran di Jepang jatuh ke rekor terendah baru tahun lalu, menurut perkiraan resmi, turun di bawah 800 ribu untuk pertama kalinya –momen yang terjadi delapan tahun lebih awal dari perkiraan pemerintah.

Kondisi ini menjadi kekhawatiran para pejabat Jepang mengingat kemungkinan besar memicu penurunan populasi lebih lanjut di negara di mana usia rata-rata warganya adalah 49 tahun, tertinggi di dunia hanya di belakang negara kota kecil Monako. “Bangsa kita berada di titik puncak apakah dapat mempertahankan fungsi sosialnya,” kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, dalam pidato kebijakan pada pembukaan sesi parlemen tahun ini.

Gaya Hidup di Jepang Yang Kini Mempengaruhi Era Kehidupan Remaja

Kishida berjanji untuk mengambil langkah-langkah mendesak mengatasi tingkat kelahiran yang menurun di negara itu. “Sekarang atau tidak sama sekali ketika menyangkut kebijakan tentang kelahiran dan membesarkan anak – ini adalah masalah yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” tambahnya. Banyak pekerjaan dan kehidupan sosial yang sekarang dilakukan dari jarak jauh menggunakan teknologi, katanya. “Ada alasan budaya juga. Rasa malu dan ketergantungan emosional terhadap ibu,” ucap Kato menambahkan.

Orang Jepang cenderung tertutup dan sederhana. Mereka punya rasa malu yang besar jika mereka tidak dapat memenuhi tekanan sosial. Jepang mengalami depresi ekonomi pada kurun 1990-an. Ketika itu, nilai yang bagus di sekolah tidak selalu berarti mendapatkan universitas yang baik, juga pekerjaan yang baik, ujar Andy Furlong, profesor dari Universitas Glasgow.

Oleh karena itu, generasi orang-orang di Jepang melakukan pekerjaan jangka pendek, yang membuat mereka berhadapan dengan stigma. Yang lain berpendapat, hikikomori terjadi karena Amerikanisasi pada budaya yang tertutup. Keterbukaan dipaksakan kepada orang-orang yang memiliki temperamen lebih sederhana. Kato melanjutkan, penyebab dan juga pengobatan untuk kondisi ini sebagian besar masih tidak diketahui. Namun, dia ingin mencegah generasi hilang lainnya. Dia mengatakan, kondisi ini dapat dipulihkan jika komunikasi antar keluarga membaik. Dia berharap seluruh keluarga turut bagian dalam konseling.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *